Kuntilanak Penguji
Iman
Malam itu jam menunjukkan pukul 09.00 malam. Risty masih
berkutat di meja belajarnya. Buku-buku pelajaran terlihat berserakan di
mana-mana. “Huaahhh, udah jam segini tapi materi pelajarannya masih banyak.
Mana besok jadwal Ulangan Semesternya MTK sama IPS. Uuhh, itu kan dua pelajaran
yang paling aku gak suka,” gerutu Risty sambil meletakkan buku pelajaran yang
ia pegang dengan keras. Hingga larut malam, Risty masih berada di meja
belajarnya. Ia masih belajar untuk Ulangan Semester besok.
Sesekali Risty
memandang ke arah luar jendela kamarnya untuk menyegarkan matanya yang lelah
karena terlalu lama membaca buku. Ini sudah kali ketiga Risty memandang ke luar
jendelanya. Namun, ada satu hal yang aneh. Saat ia melihat ke arah jendela
kamarnya, ia melihat sebuah sosok bayangan hitam besar yang misterius. Hal ini
sungguh aneh. Padahal, dinding di
sekitar jendela kamarnya itu berwarna hitam. Dan hanya ada sorot lampu
belajarnya yang menyinari daerah di sekitar jendela kamarnya itu. “Ihh, itu
bayangan apaan sih? Kok bayangannya gede banget. Ah, mungkin itu bayangan
lemari kali,” ucap Risty dalam hati. Risty yang melihat jelas bayangan
misterius tersebut berusaha cuek dan tidak takut. Dalam pikirannya mungkin itu
hanyalah sebuah bayangan biasa. Dan tidak ada hal yang perlu ditakutkan.
Setelah itu, Risty
segera merapihkan buku-buku pelajrannya dan bergegas untuk tidur. Risty satu
kamar dengan kakak perempuannya. Namanya Kak Wanda. Risty selalu tidur berdua
dengannya. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena ada Kak Wanda yang
selalu menemani Risty. Risty juga memiliki seorang adik perempuan. Namanya Oky.
Usianya baru lima tahun.
Di malam berikutnya, jam dinding kembali menunjukkan pukul
09.00 malam. Dan Risty masih sama seperti malam sebelumnya. Ia masih berkutat
di meja belajrnya yang terlihat berantakan karena buku-buku pelajarannya
berserakan di mana-mana. Namun, kali ini ia terlihat lebih santai. “Ah, capek.
Istirahat dulu, ah. Hmm, enaknya ngapain ya? Cek HP dulu deh. Liat status-status
terbaru di sosmed, hehehh,” pikir Risty. Ia pun segera mengambil smartphone
kesayangannya dan mengecek status di BBM dan di grup LINEnya.
Setengah jam berlalu. Risty masih bermain HP kesayangannya.
“Hahahahah. Si Reza upload meme lucu banget. Ngakak gue. Hahahah,” tawanya
terbahak-bahak setelah melihat gambar meme upload-an temannya di LINE. Risty
tidak sadar kalau ia tertawa sangat keras sehingga mengganggu Kakaknya. “Eh,
berisik banget sih, Ty. Kamu tadi kan lagi belajar. Kok malah main HP?” tanya
Kak Wanda kepada Risty dengan nada kesal. “Eh, iya. Maaf, Kak. Tadi aku
refreshing dulu Kak. Mata aku capek kalo kelamaan baca buku,” jawab Risty.
“Yaudah sana belajar lagi. Sini HP kamu Kakak sita kalo kamu masih main HP,”
ucap Kak Wanda. “Eh, Kak. Jangan dong! HP nya jangan disita,” kata Risty. “Kalo
gak mau disita, yaudah kamu belajar lagi sana. Atau Kakak laporin kamu ke Mama
ya. Biar uang jajan kamu dipotong,” ucap Kak Wanda dengan nada menakut-nakuti
Risty. “Eh, jangan! Iya deh. Iya, aku belajar lagi,” sahut Risty dengan muka bete.
Risty pun kembali belajar di meja belajarnya. Jam pun mulai
menunjukkan pukul 01.00 dini hari. “Akhirnya selesai juga belajarnya,”ucap
Risty. Ia pun segera merapihkan buku-buku yang berantakan di meja belajarnya.
Setelah itu, tiba-tiba ia ingin buang air kecil. “Aduh, pengen pipis. Turun
dulu ah, ke kamar mandi,” ucap Risty dalam hatinya. Ia pun segera turun ke
lantai bawah untuk ke kamar kecil. Setelah selesai dari kamar kecil, ia pun
kembali naik ke lantai atas, ke kamarnya. Baru saja ia sampai di lantai atas,
tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang terdengar seperti sedang menaiki
anak tangga. Ia pun penasaran dan segera melihat ke arah anak tangga.
Di anak tangga, samar-samar terlihat sosok anak kecil berambut
panjang dan berbaju putih yang membelakangi tubuh Risty. Karena Risty tidak
memakai kacamata, ia tidak dapat melihat sosok tersebut dengan jelas. “Ih, itu
siapa sih? Malam-malam kok belum tidur. Oh, itu Oky kali ya?” pikirnya dalam
hati. Tanpa rasa takut, Risty langsung memanggil sosok tersebut. “Oky. Oky.
Kamu ngapain kok belum tidur? Oky. Liat Kakak dong,” tanya Risty. Sosok itu
tetap diam saja dan masih membelakangi Risty saat Risty memanggilnya dengan
‘Oky’ karena Risty mengira bahwa sosok itu adalah adik perempuannya. Akhirnya,
Risty yang penasaran langsung mendekati sosok tersebut. “Oky,” ucap Risty
sekali lagi kepada sosok tersebut. Sosok tersebut kemudian berbalik badan.
Alangkah terkejutnya Risty. Ia mendapati sosok di hadapannya berubah wujud.
Risty bisa melihat dengan jelas kulit wajah yang pucat
dengan kedua bola mata yang besar dan ingin keluar dari tempatnya.
“Astagfirullah,” ucap Risty dengan spontan. Ia pun segera naik ke lantai atas
sambil membaca Ayat Kursi. Di kamarnya, Risty segera membangunkan Kakaknya yang
sedang tidur. “Kak! Kak! Bangun!,, Kak! Cepetan bangun!” teriak Risty kepada
Kak Wanda dengan penuh ketakutan. “Ih, ada apaan sih? Ganggu Kakak aja deh,”
jawab Kak Wanda dengan nada yang masih mengantuk. “Kak, tadi di tangga aku liat
kuntilanak,” ucap Risty yang masih ketakutan. “Kultilanak? Ah, kamu ada-ada
aja. Mana mungkin di rumah kita ada kuntilanak. Udah gih, sana tidur,” ucap Kak
Wanda.
Risty pun berusaha tidur. Namun, ia masih tidak percaya
dengan apa yang telah ia lihat tadi. Ia masih ketakutan. Dengan memendam rasa
was-was dan ketakutannya, Risty akhirnya tidur. Di pagi harinya Risty mengigau.
“Oky. Oky. Kamu ngapain? Oky. Oky!” suara Risty yang mengigau. Mendengar Risty
mengigau, Kakaknya langsung membangunkannya. Dan ternyata, Ibunya juga turut ke
kamarnya karena mendengar suara Risty yang kencang memanggil-manggil Oky. “Ada
apa ini? Risty, kok kamu manggil-manggil Oky?” tanya Mama setibanya di kamar
Risty. “Ini mah, Risty tadi ngigau,” sahut Kak Wanda kepada Mama. “ Oh, Yaudah
kalian cepetan mandi. Abis itu kita sarapan,” ucap Mama. Risty pun segera mandi
dan merapihkan kamarnya.
Setelah siap, ia dan Kak Wanda turun ke bawah. Masih
terbayang-bayang di benak Risty tentang kejadian semalam. “Ty, kamu kenapa sih?
Kok kayaknya gak semangat?” tanya Mama yang heran kepada Risty. “Mah, tadi
malam aku ketemu sama kuntilanak di tangga,” ucap Risty. “Kamu ada-ada aja.
Mana mungkin ada kuntilanak di rumah kita,” ucap Mama yang tidak percaya. “Kamu
mimpi kali,” timpal Kak Wanda. “Tapi, ini beneran, Mah. Risty liat dengan mata
kepala Risty. Kuntilanak itu menyerupai Oky,” ucap Risty berusaha meyakinkan
Mama dan Kak Wanda. “Kamu yakin begitu?” tanya Papa kemudian. “Iya, Pa. Risty
yakin. Risty gak bohong,” jawab Risty. “ Yaudah, Mama percaya sama kamu. Begini
aja, supaya hati kamu tenang, mulai sekarang kamu perbanyak sholat, mengaji dan
berdo’a memohon lindungan kepada Allah,” ucap Mama seraya menenangkan Risty.
“Iya, sayang. Mulai sekarang kamu harus pertebal iman kamu. Niscaya, jika iman
kamu tebal, kamu tidak akan diganggu lagi,” sambung Papa. “Iya tuh, Ty. Mungkin
selama ini ibadah kamu masih belum khusyuk. Terus di kamar kamu juga udah gak
pernah ngaji lagi,” timpal Kak Wanda. Sejak kejadian itu, Risty kini lebih giat
dan khusyuk dalam beribadah. Ia selalu berusaha sholat tepat pada waktunya.
Mengaji setiap setelah selesai sholat Maghrib. Dan selalu berdo’a memohon
perlindungan kepada Allah SWT.
Ok, guys! Itulah salah satu contoh cerpen misteri dan horor yang diangkat dari kisah nyata. Semoga cerpen ini dapat menginspirasi sobat semua ya! Ingat! Cerpen ini hanya untuk referensi. Stop bajakan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar